Exist to Coexist

Sebenernya ini topik yang kurang gue suka (soalnya sangat mengundang debat kusir, dan gue bener-bener ga suka debat kusir, da aku mah apa atuh, terlalu senang berdamai), tapi apa mau dikata, akhir-akhir ini di sosial media semuanya lagi ngebahas soal ini, jadi biar dibilang gaul ikut ngebahas ini juga deh.

……

Mainstream banget ya gue.

Alright, jadi kali ini topiknya tentang keberagaman, eh, rasanya dulu disini gue pernah ngepost soal ini ya? tapi dulu banget sih waktu gue masih SMA, nulisnya pun masih acak-acakan (sampe sekarang sih), dan sekarang tergerak untuk ngebahas ini lagi karena… yaa, lagi pengen aja. Harap dimaklumi karena gue emang sangat minim inspirasi dan motivasi. Angin-anginan to the max.

Anyway.

Berdasarkan observasi komprehensif yang gue lakukan melalui scrolling feed di instagram (gila, kredibel banget!), gue dapat menyimpulkan bahwa saat ini semakin banyak orang yang terdorong untuk menyuarakan tentang pentingnya keberagaman, root causenya udah pada tau lah ya, karena sebuah kasus which-shall-not-be-named (karena pasti mengundang debat kusir, which is, once again, I hate the most). Mulai banyak juga postingan-postingan yang berisi konten-konten keberagaman, mulai dari yang bentuknya meme sampe yang bentuknya video. Lucu aja sih, setelah sekian lama negara kita merdeka, baru muncul lagi tren keberagaman dengan euforia sebesar akhir-akhir ini.

Komen gue cuma satu:

Ini langkah yang sangat-saaaaangat baik bagi kemajuan Indonesia kedepannya.

Dan menurut gue, satu-satunya yang menghalangi progress ini cuma satu: radikalisme.

Yang gue maksud sebagai radikalisme disini ga cuma radikalisme agama lho, tapi juga kelompok liberal yang radikal, karena, apapun pahamnya, apapun idealismenya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ah, tanpa gue ngomong gini pun harusnya semua orang udah tau, it’s common sense ffs.

Read more

Seriously, though.

One day (several years ago, to be exact), I was looking at my blackberry phone and stare on my blackberry messenger’s feeds (procrastinating as usual), amidst of the abundant feeds, one of my friends changed her status, if I wasn’t forgot, she was quoting something which approximately said “If you want to be confident, be prepared, If you want to get rid of fear, be prepared”, It really caught my attention since at that time, my mind was in constant panic because of deadlines of some of my college’s projects, the quote kinda reminds me of a Roman proverb, “Praemonitus Praemunitus”, which literally means “Forewarned is Forearmed”, and yeah, I agree that preparation should be mandatory in terms of finishing any tasks, assignments, or projects.

But, In contrary, I’m not fully hinged on preparation that much, because on some (unfortunate) conditions, preparation would be useless, believe me, I’ve been facing a bunch of spontaneous “shit happens” moments and preparations didn’t provide any help, moreover, if I depends too much on preparation, my expectation will fly too high, but otherwise, I won’t get forearmed! I shit you not, this dilemma is still haunting me.

Well, I think this condition really fits for using Stockdale Paradox, which is to be open-minded to harsh facts and reality, but in the same time, keeps on struggling and believing that every problem gonna meet its ends, aaaaand yep, that’s a theory for ya, it’s easy to explain it but so damn difficult to implement it, Oops, sorry! difficult is not quite right, I mean it’s “not that easy” (gotta keep the positivity, folks!)

 

Ah, screw it, just stop procrastinating already.

Dear Hotheads,

Based on Dante Alighieri’s “The Divine Comedy”, There are seven deadly sins of humanity, I count every single one of them as horrible aspects of human nature, but nothing bothers me more than Wrath.

Don’t get me wrong, doesn’t mean that sins other than wrath is forgivable, all of them must be condemned, but, I don’t know, it’s just until now I still regard wrath as something that I don’t like the most from human.

If someone got angry over something then he/she will release their anger upon anything or anyone, then the anger will infect the victim, then the victim become another suspect, and the list goes on.. it spreads like a freaking virus, and it makes me sick, why don’t we just keep the anger within ourselves? Why don’t we? Why is it so hard for people to cultivate peace on their heated heads?

As Prophet Mohammed once said, if we don’t have anything good to say, it’s better to not say anything at all, but on the contrary, I often seen the otherwise, people just heartlessly stab anyone by their tongue in order to release their anger or even worse, which is to fulfill their egotistical pride, how terrible it is.

Well, Apparently I do agree with the idea that emotional intelligence is a really important competence for humans to possess, I (seriously) wish more people would associate patience with wisdom, and not making it contradictory by linking it with weakness.

Exquisite Mirage

Here comes another year, when people start to consider about what will be their next year’s resolutions, little did they know, we can’t always relies on resolutions in order to change behavior

But I gotta give ’em props for having the enthusiasm, because it’s not easy to have enough willing to change, there are many people whom aware of their weaknesses, but happily chose to stay in their comfort box, well, it’s purely humane, but undermining at the same time.

Don’t get me wrong, I’m totally not skeptic with new year’s resolutions (besides, I think this is a really reaally good tradition!), I just want to criticize the motive, because occasionally I saw people who show off their resolutions (in social media sites, precisely) just to tell people that they’re making a progress, whereas, the progress hasn’t really happened yet! THIS is the illusion which often made people thought that they have successfully reach an achievement, and finally satisfied with it, and done with it without actually finishing it.

Rational? Definitely not.

Just admit it, humans are irrational.

Read more

Nasgor dan Nasib

Sekitar seminggu yang lalu, malam hari setelah saya pulang kuliah, saya menepikan mobil terlebih dahulu untuk membeli nasi goreng di suatu kedai pinggir jalan. Tidak sering saya membeli makan setelah pulang kuliah, karena opsi yang ada biasanya antara saya makan di rumah sebelum berangkat, atau makan malam di kampus.

Kedai nasi goreng tersebut terlihat sangat sepi, memang malam sudah agak larut.

“Mas, tolong bungkus nasi gorengnya satu ya, ga pake sayur sama daging”

“Siap mas.”

Saya pun merogoh saku saya untuk mengambil handphone dan mengecek berbagai aplikasi sosial media, setidaknya untuk memberi kesibukan sembari menunggu nasi gorengnya jadi.

“Pulang lembur mas?”

“Oh, ngga, saya pulang kuliah, emang jadwalnya malem”

“Ooo gitu ya.. kuliah di mana mas?”

“Deket kok mas, di marnat (maranatha)”

“Oh disana ya.. enak ya mas masih kuliah, saya sebenernya pengen lho kuliah juga”

Pada titik ini saya agak heran kenapa si mas tukang nasi goreng tiba-tiba curcol, but I don’t mind, toh saya tipe orang yang senang mendengar cerita.

Read more

Drowsy

Setiap hari, setiap orang terbangun dengan motivasi yang beragam

Ada yang bangun karena harus mencari nafkah

Ada yang bangun karena harus mencari ilmu

Ada juga yang bangun hanya untuk mencari alasan agar tidak disebut kerbau

Tidak semua orang memiliki motivasi yang sama, tapi motivasi yang sama bisa dimiliki siapa saja

 

Saya?

Seperti orang lain, motivasi saya pun beragam

Saya tidak berbeda. Seven billions human, what are the odds?

 

Yaaa, Semua mungkin terasa sama

Namun menurut perspektif saya, sebuah perbedaan telah muncul, dan hanya saya yang tahu

 

Apapun itu,

Yang jelas saya rasa semuanya akan terasa lebih cerah mulai saat ini.

 

Semoga.

Choice, Consequence, & Confusion

Setiap pilihan yang diambil pasti memberikan konsekuensi yang beragam.

Apapun konteksnya, setiap orang akan selalu mencari pilihan yang memberikan proporsi keuntungan yang lebih banyak menurut perspektif dirinya (well, karena ekspektasi setiap orang terhadap suatu outcome tidak selalu sama). Hal ini masih ada hubungannya dengan ide dari Adam Smith dimana dia berargumen bahwa best outcome akan muncul apabila setiap orang memilih keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri, sehingga kemudian muncullah konsep semacam laissez-faire dan juga kapitalisme.

Namun seperti teori-teori ilmu pengetahuan pada umumnya, pasti pada perkembangannya akan ada yang datang untuk membantah, Salah satu yang membantah teori Adam Smith adalah John Maynard Keynes (dimana dia menjabarkan bahwa kebebasan pilihan yang dimiliki oleh private organizations harus juga diiringi oleh intervensi dari pemerintah melalui kebijakan-kebijakan tertentu (fiskal, contohnya), agar stabilitas ekonomi negara dapat dikendalikan secara lebih teratur). Selain Keynes, ilmuwan lain yang membantah teori Adam Smith mengenai pembuatan keputusan adalah John Nash, dimana ia membuat konsep baru bernama Nash Equilibrium (Keputusan terbaik akan bisa dicapai apabila masing-masing pembuat keputusan mempertimbangkan proporsi keuntungan terbesar yang akan dimiliki bersama).

Di luar dari apa yang saya tulis di atas, saat ini saya tidak sedang ingin membahas tentang teori-teori ekonomi.

Read more

Undisguised Shade of Blue

Tidak pernah saya menatap langit-langit kamar sedalam ini. Alasan dibaliknya pun tidak begitu jelas, yang jelas adalah saya tidak tahu pasti apa yang sedang saya rasakan sekarang.

Rasa khawatir adalah manusiawi. Rasa marah adalah manusiawi. Rasa sedih adalah manusiawi. Rasa bahagia adalah manusiawi. Rasa adalah manusiawi.

Di saat seperti inilah saya sepenuhnya merasa sebagai sebuah living entity

Andai manusia makhluk tak berperasaan, tentu akan terasa lebih menyenangkan. dan tentu tidak akan menyenangkan pula karena manusia tidak bisa merasa.

Dan di saat seperti inilah ditemani oleh sepi terasa begitu mendamaikan. Setidaknya tidak ada orang yang perlu repot-repot memahami cerita yang belum tentu dipedulikan.

Andai saja manusia tak merasa..

Andai..

Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds, and shall find me, unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul

-William Ernest Henley (1875)

 

Note:

Probably this will be one of my favorites, What an exquisite poem with such powerful message..

No wonder Nelson Mandela loves it

Solitude

Sejujurnya saya bukan tipe orang yang akan keberatan bila harus diposisikan pada situasi dimana saya hanya berinteraksi dengan diri saya sendiri, bukan berarti saya tidak tertarik dengan sosialisasi, namun berhubungan dengan manusia lain terkadang butuh tenaga ekstra.

Saya cukup senang bersosialisasi, hanya saja tidak terkesan karenanya, hal ini karena ada orang-orang yang mendapat energi melalui interaksi dengan orang lain, sedangkan saya lebih sering mengisi energi saya sendiri. Munafik jika saya bicara bahwa saya tidak butuh orang lain, “manusia adalah makhluk sosial”… kata-kata yang mungkin sering didengar di ruang-ruang kelas, memang benar adanya.

Sebagai makhluk sosial, sudah sepantasnya antar manusia membangun hubungan mutualisme, walaupun terkadang ada manusia-manusia yang salah meng-interpretasikan hubungan sosial antar sesamanya dengan hubungan berdasarkan ekspektasi.

 

Jika saja manusia bisa saling berbuat baik tanpa berharap.

 

Jika saja ekspektasi lebih dimanfaatkan sebagai motivasi, bukan pada perspektif lain.

 

I love being on my own because I can choose not to overly judge myself, by expectation.

But it’s quite difficult to face people, because sometimes I expect that they expected something.

Therefore, the root cause is within myself

Never mind, the bottom line is…..

I love people, I won’t expect them to love me back, but isn’t it great if we could love each other without any expectation? 🙂